Hikayat Komik, Motor dan Bikers (1)

Hikayat Komik Motor dan Bikers (1)

IR-Seorang pemuda mengenakan jins, sepatu kets, menggelantung jaket di pundaknya. Rambutnya gondrong, matanya sinis, acuh. Kalau merokok, rokoknya seperti mau jatuh. Tongkrongannya lebih sering sepeda motor ketimbang mobil. Kenapa tatapannya sinis? Sebab, meski postur tubuhnya sempurna dan bertampang macho, sang pemuda begitu melankolis dan terlalu mudah patah hati. Siapa pemuda itu?

Pemuda itu bisa siapa saja. Tapi, di tahun 1970-an silam, orang lebih sering menemukan pemuda dengan gaya seperti itu dalam komik-komik remaja yang dibuat Jan Mintaraga. Seperti ditulis Seno Gumira Ajidarma di Tempo (20 Desember 1999), sampai hari ini, masih akan bisa kita dengar pameo di antara para eksponennya, penggemar komik Jan, yang kini berusia 40-50-an tahun ke atas, “Seperti komiknya Jan.”   

Di awal tahun 1970-an, pemuda macam di komik Jan adalah juga sosok ideal bagi aktor Roy Marten. “Terus terang, dulu saya suka nggaya dengan motor karena pengaruh komik Jan Mintaraga,” aku Roy pada Kompas tahun 2005 silam. Roy kemudian menelurkan film dengan tongkrongan pemuda bermotor. Sekarang kita tahu akarnya dari mana komiknya Jan.

Menarik membincangkan komik dan motor. Untuk membincangkan motor di komik, pertama-tama yang harus kita kulik adalah genre komiknya. Dalam periodisasi komik Indonesia yang dibuat peneliti Prancis Marcel Boneff di buku Komik Indonesia (hasil penelitian tahun 1972, dibukukan 1976, edisi Indonesia-nya baru terbit 1998), komik macam karya Jan digolongkan ke dalam roman remaja. Komik jenis ini pertama tumbuh dari 1964-1966. Di penghujung Orde Lama Soekarno, komik roman remaja punya pesan untuk menjauhkan remaja dari kehidupan hedonis, hura-hura. Di sini tersirat moral yang mendorong revolusi, catat Boneff. Seorang pemuda Indonesia harus mengabdi kepada tanah airnya atau berkarya untuk masa depan negerinya dan kesejahteraan rakyat. Pengaruh Barat berbahaya, mode pakaian, musik The Beatles, dan dansa merusak akhlak anak muda dan merangsang mereka melanggar norma.

Namun, komik berisi pesan moral saja tak laku. Di ujung pena komikus masa itu macam Budijono, Budijanto, atau Alex Iskandar pesan moral kadang diselipkan barang sedikit. Komik mereka isinya melulu soal erotisme dan kekerasan. Rok ketat yang minim di tubuh montok plus adegan asmara makin bertebaran. Tingkah yang patut diteladani hanya diolah sepintas. Alhasil, komik macam begini, di masa akhir kekuasaan Soekano dianggap tak bermoral. Kecenderungan yang lahir pada 1965 itu membuat para orangtua marah. Pejabat di Semarang, catat Boneff, membakar komik-komik yang dianggap tak bermoral itu.

Meski begitu, huru-hara politik yang dipicu peristiwa G30S/PKI tahun 1965 melengserkan Soekarno. Orde Baru lahir dan merombak nilai-nilai maupun aturan Orde Lama. Musik dan gaya hidup Barat relatif dibolehkan, diberi kelonggaran. Ikonnya, grup band Koes Plus yang dibui gara-gara menelurkan musik ngak ngik ngok, bebas dari penjara.

Pada kondisi politis pasca Orde Lama itulah komik roman remaja kemudian menemukan momentumnya sekaligus menandai fase barunya. Roman remaja tak lagi merasa perlu menyelipkan pesan moral. Sesuai namanya komik roman remaja ditujukan bagi kamu muda (“Buat Anda jang benar-benar berdjiwa remadja”). Para penerbit sering mengantar kisahnya dengan kata-kata begini: “Sebuah kisah jang pasti akan meneteskan air mata anda.” Pendek kata, komik roman remaja di masa awal Orde Baru murni berisi kisah cinta romantis. Lain tidak. Komik roman remaja semuanya  menceritakan kehidupan remaja kota besar dengan pakaian modis, berpesta pora  (umumnya pesta ulang tahun), pacaran, dengan segala kemewahan atribut misalnya mobil bagus, rumah bagus, dan isi seterusnya.

Saat mengenang era 1970-an di bukunya Pasar Gambir, Komik Cina & Es Shangghai (2010), Zeffry Alkatiri menulis, sebelum banyaknya media hiburan, salah satu alternatif yang digandrungi remaja pada periode 1970-an adalah komik. Pada 1970-an itu, muncul jenis roman remaja dan drama keluarga. Komikus terkenal Indonesia yang membuat komik jenis ini adalah Jan Mintaraga, dengan karyanya, Sesudah Badai Reda (1967-1968), Sebuah Noda Hitam, Rumah Djahanam, Myra, dan Tangga (1967-1972). Komikus lain yang membuat komik jenis ini antara lain Zaldy (Setitik Air Mata Buat Peter, 1971) dan Sim (Topaz, 1970).

Komik karya Jan Mintaraga ini kemudian laku keras di pasaran. Apalagi pengarangnya menampilkan tokoh komik yang kemudian menjadi idola remaja pada masa itu. Bahwa Jan hanya berkisah soal cinta dan bukan politik, meski tokoh-tokohnya sering juga mahasiswa, menunjukkan batas-batas yang tak mungkin ditembus di masa Orde Baru. Main musik boleh sampai jungkir balik, tapi jangan menggugat negara. Yang tersisa buat Jan, catat Seno Gumira, tinggal cinta dan gaya.   

Tokoh yang ditampilkan oleh Jan adalah seorang pemuda yang mengenakan celana jins, jaket, bersepatu kets, terkadang  mengendarai sepeda motor dan bersikap acuh tak acuh pada teman wanitanya. Dengan motor juga, anak muda dalam komik Jan itu mengujungi pacar. Mereka kemudian berboncengan ke taman atau pantai. Jika putus cinta mereka akan ngebut. Jika kemudian celaka, sang cewek akan menjenguk dan rujuk lagi—dengan catatan, kalau cowoknya tidak mati karena kecelakaan setelah patah hati.

Motor di komik 1970-an pada hakikatnya sebuah wujud pemberontakan anti kemapanan semu. Tongkrongan tokoh-tokoh di komik bak pemberontak yang siap menentang segala kemapanan yang ada. Tapi, hati mereka bisa sangat rapuh. Walau tongkrongannya macho atau acuh tak acuh,  hatinya sangat sentimentil, melankolis, sekaligus romantis.  

Penulis

aris
  • Comments

0 Comments:

Scroll to Top